Arti Merdeka
( karya : Widiyawanta )
Dalam kemedekaan saat ini
Derasnya keringat,
yang mengucur bagai air, mengalir butir demi butir
apalah artinya ?
Haruskah ada artinya ?
Penatnya raga,
yang melingkupi asa, menghimpit relung – relung jiwa
apalah artinya ?
Masihkah ada artinya ?
Keringat yang mengalir,
apakah sebanding dengan darah yang membanjir
dari tubuhmu kala berjuang ?
Raga yang penat,
apakah setara dengan derita yang melekat
dalam jiwamu kala berperang ?
Kemerdekaan ini tidaklah dibayar dengan keringat dan rasa penat,
tapi dengan tubuh yang penuh darah,
derita kala harus berpisah,
jiwa dan raga yang akhirnya terpisah
tidak hanya satu, tapi beribu
tidak hanya dua, mungkin berjuta
Kini hanya seonggok medali
atau teriakan merdeka tak berarti
Kala bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menghargai jasamu
maka, wahai pahlawan
seberapa besarkah bangsaku kini ?
Ran, cinta itu….
Ran, cinta itu bulat. Kenapa kau mengerutkan dahi seperti itu ? Benar! Cinta itu bulat, ini aku berikan kepadamu. Sebuah cinta yang bulat tanpa sudut, cinta yang utuh tanpa satupun lubang, sebuah cinta yang halus tanpa ada satupun benjolan. Jangan kau anggap ini sebagai sesuatu yang aneh, karena ini adalah kenyataan, jangan pula engkau berpikir aku ini pendusta, karena semua ini engkau jualah penyebabnya. Aku tak tahu tepatnya kapan, tapi aku ingat bahwa cinta dalam hatiku keluar begitu saja menembus dadaku. Aku sih tak apa-apa, tapi ketika aku sadar, benda bulat ini sudah ada ditanganku. Dan semua ini terjadi saat kita bertemu di depan pintu gerbang sekolah. Teman – temanpun berdatangan mengerumuniku.
”Apa itu?” Aku tentu saja tak tahu .
Aku pulang dengan segala pertanyaan di kepalaku dan sebuah benda bulat seperti bola kecil berada di tanganku. Aku menaruhnya di atas meja di ruang tengah sehingga aku bisa mengawasinya setiap saat. Selama beberapa hari aku tinggalkan benda bulat kecil ini karena aku tak mungkin membawanya ke sekolah. Tapi dalam beberapa hari itu pula aku merasa sesuatu telah hilang, aku seperti bukan manusia yang lengkap seutuhnya, ada sesuatu yang kurang, dan aku baru tahu bahwa yang hilang dalam diriku adalah sebuah persaan yang orang biasa menyebutnya dengan “cinta”. Saat itu sikapku kepada orang-orang menjadi datar, tak ada lagi kata ramah dalam otakku, senyumkupun menjadi hambar. Tapi saat aku pulang, aku mulai bisa merasakan semua perasaan yang hilang itu, saat itulah aku tahu benda bulat kecil ini adalah cintaku.
Ran, cinta itu merah. Yah…sebenarnya cinta itu berwarna – warni, ada yang biru, ada yang hijau, kuning, putih, dan bahkan ada yang hitam. Tapi cintaku berwarna merah, mungkin karena cintaku begitu membara, begitu besar sehingga benda bulat kecil ini berwarna merah. Mungkin juga karena cintaku kepadamu adalah sesuatu yang pasti, tidak seperti cinta orang lain yang berwarna merah jambu, yang kata teman – teman pink. Merah memang merah, tapi campuran warna putih yang menjadikannya pink, membuat kesan yang meragukan. Padahal tidak ada kata ragu dalam kamus bahasa cinta manusia. Kalau kau tak percaya, kau bisa mencarinya di kamus besar bahasa cinta edisi terbaru, kebetulan aku punya edisi terbaru yang baru keluar beberapa bulan lalu. Di sana kau tak akan menemukan kata ragu.
Meskipun begitu, warna merah cintaku takkan menyilaukan mata. Tak seperti warna merah senja yang hampir tenggelam yang membuat kita memicingkan mata saat melihatnya, bahkan sampai harus memakai kacamata hitam. Lihatlah! Warna merah cintaku ini begitu lembut, matamu takkan silau apalagi sampai sakit. Bahkan mungkin jika bisa engkau akan lebih senang menatap warna merah bola cintaku ini daripada berkedip. Kau takkan pernah mau matamu melewatkan bola merah ini sedetikpun. Apalagi sampai terpejam beberapa detik, mengantuk terus tertidur. Tidak! Jangan sampai! Aku yakin ada orang lain yang cintanya berwarna biru ataupun hijau. Meski tak tahu apa bentuk cintanya, tapi inilah cintaku. Cinta yang bulat dan berwarna merah. Meski begitu aku tak pernah meminta agar cintaku berwarna merah, hal itu terjadi begitu saja. Jangankan meminta, aku dulu tak pernah berpikir bahwa aku akan jatuh cinta kepadamu, apalagi sampai mencintaimu seperti ini. Begitu besar.
Aku dulu sangat terkejut saat bola kecil ini keluar begitu saja dari dalam dadaku, berwarna merah sehingga aku dan teman- teman mengira bahwa bola ini adalah organ dalam tubuhku yang keluar. Tapi aku tak merasakan sakit, dan ternyata warna merah itu adalah warna dari bola ini dan bukan darah yang keluar. Setelah aku tahu bahwa bola kecil ini adalah cintaku, aku selalu membawanya kemanapun aku pergi, meski hanya kutaruh di tas ataupun di saku celana.
Mungkin kau heran, bagaimana aku bisa tahu bahwa bola kecil berwarna merah ini adalah bentuk cintaku padamu, dan bukan untuk orang lain? Apakah aku tidak salah orang? Tidak, Ran! Aku tidak salah, aku tidak akan keliru terhadap perasaanku sendiri, meski aku mengetahuinya baru beberapa hari lalu. Kau tentu ingat, beberapa hari lalu, hari Rabu sore saat kau berada di telepon umum. Aku tak tahu kau menelpon siapa, tapi saat itu aku ada toko roti yang ada di depan pintu gerbang sekolah, tempat dimana kita pertama kali bertemu. Aku duduk – duduk di kursi yang ada di teras depan toko roti itu. Saat itu aku sedang membaca majalah sambil sesekali melihat sekelilingku, melihat barangkali ada orang yang kukenal dan bisa kuajak ngobrol sambil menunggu bus kota. Saat mataku tertuju padamu yang ada di telepon umum, aku terdiam dan entah kenapa mataku tak bisa beralih dan tetap berkeras menatapmu, bahkan untuk berkedip pun aku tak sanggup. Syaraf dalam otakku sudah mengirim pesan ke syaraf mataku agar berkedip, tapi tetap saja tak mau. Iseng – iseng kuambil bola kecil yang ada di saku celanaku, dan aku sangat terkejut karena saat itu warna merah bola ini tak seperti dulu yang begitu sayu. Tapi saat itu dia begitu menyala dan terus memerah meski tak menyilaukan mata. Orang – orang menjadi kaget, dan semua perhatian tertuju padaku. Tapi untungnya aku bisa dengan santai memasukkannya kembali ke dalam saku celanaku. Aku takut jika aku gugup dan memasukkan bola ini cepat – cepat justru akan menimbulkan kecurigaan dari orang – orang yang melihatku. Padahal di ujung jalan yang hanya beberapa meter ada pos polisi. Aku khawatir orang – orang itu akan melaporkan pada polisi bahwa ada orang yang mencurigakan dengan tingkah yang mencurigakan, dan membawa benda yang mencurigakan pula. Tidak, aku tak mau berurusan dengan polisi, apalagi dengan membawa bola merah ini yang tentu saja tak mungkin kujelaskan pada mereka bahwa bola ini adalah cintaku, dan bukan bom atau sejenisnya. Karena mereka takkan percaya.
Aku hanya diam, kutunggu beberapa menit sampai orang – orang tadi berlalu dan tak memandangiku lagi dengan tatapan penuh selidik yang aneh dan paling tidak kusukai. Keadaan mulai normal, kukeluarkan lagi bola merah ini dan terpaksa kututupi dengan kedua tanganku supaya orang – orang tak melihatnya dan curiga lagi padaku. Sebenarnya aku sempat merasa aneh, saat pertama kali bola ini keluar dari dadaku dulu, aku bisa menggenggamnya dengan satu tangan, tapi kini aku harus menutupinya dengan kedua tanganku. Bola ini membesar, meski aku sempat ragu bahwa bola ini bisa membesar. Tapi kenyatannya? Kini aku harus menutupinya dengan kedua tanganku.
Baru akhir – akhir ini aku tahu bahwa bola yang membesar ini adalah sebagai pertanda bahwa cintaku padamulah yang semakin membesar. Aku berjalan ke arah mu yang masih sibuk bicara lewat telepon umum. Engkau tak menyadari bahwa ada orang yang mengawasimu terus, yaitu aku. Bola merah dalam tanganku semakin membara, aku jadi takut jika orang – orang kembali mencurigai aku. Kumasukkan lagi bola merah ini kedalam saku celanaku, apalagi saat engkau tiba – tiba beranjak pergi, melewatiku yang hanya bengong, tanpa sedikitpun acuh kepadaku. Di saat itulah aku sadar bahwa bola merah ini hanya akan bereaksi padamu, dan aku jadi tahu bahwa engkaulah orang yang selama ini kucari, wanita yang aku cintai.
Ran, cinta itu manis, manis sekali! Sebenarnya aku tak tahu apakah kata manis itu tepat untuk menggambarkan rasa cintaku ini, tapi tak ada kata lain yang sempat terpikir olehku selain kata manis. Cintaku lebih manis daripada gula ataupun coklat yang paling mahal sekalipun. Aku tak tahu mengapa orang – orang bisa mengungkapkan cintanya hanya dengan sekotak coklat ataupun dengan sekuntum bunga. Semahal apapun coklat, toh akan meleleh juga jika terkena panas, sedangkan cinta takkan pernak leleh. Apalagi bunga, seharum apapun dia, kelak kuntumnya akan berguguran termakan usia, padahal cinta itu abadi dan takkan pernah layu. Kau lihatlah benda bulat yang berwarna merah ini, cintaku, aku pernah membantingnya di lantai marmer tapi tak retak sedikitpun, apalagi pecah. Ia hanya memantul seperti bola kebanyakan. Saat kucoba kedua kalinya, aku menyesal karena terlalu keras, iapun memantul keras dan memecahkan beberapa perabot rumahku. Aku juga pernah membakarnya, tapi ia tak hangus, apalagi habis terbakar menjadi abu. Warna biru dan kuning dari api justru tersedot kedalam bola dan menjadikannya begitu hangat. Aku sendiri heran, bagaimana aku bisa memusnahkan bola kecil ini. Kini aku sadar, bola ini tak mungkin aku musnahkan, bagaimanapun caranya, dan yang harus aku lakukan adalah mempersembahkannya kepadamu.
Ran, terimalah benda bulat berwarna merah ini. Aku memberikannya kepadamu, karena hanya kepadamulah seharusnya benda ini aku berikan. Simpanlah selalu untukku, sebagai bukti cinta kita, tapi satu pesanku,
“ Jangan bilang pada kekasihmu ataupun pacarku!”
SURYA TENGGELAM
Alhamdulillah, pukul setengah lima pagi. Aku terbangun dari tidur yang entah kenapa terasa lama sekali. Hari masih begitu gelap dan sunyi. Entah kenapa pula, biasanya saat seperti ini sudah ada ayam jantan yang mulai berkokok, bersautan, tapi kini masih terasa sepi. Sunyi. Sunyi sekali.Laa illahaillallah, adzan shubuh baru saja selesai. Aku menggeliat, sungguh masih sangat mengantuk. Buku-buku kuliahku masih berserakan di samping komputer yang masih menyala. Aku beranjak dari tempat tidurku, lalu bergegas mengambil air wudlu. Suasana rumah masih lengang. Bapak, ibu, dan mas-ku sepertinya masih tertidur. Air wudlu kurasakan begitu dingin, ditambah dengan suasana yang masih sunyi membuatku merinding.
Bismillah, kini bisa kurasakan air yang selalu terasa sejuk dihatiku membasahi wajah, tangan, dan kakiku. Sejuk sekali, seolah semua rasa kantuk dan segala kepenatanku menghilang. Pancuran yang ada disebelah selatan rumah membuatku bisa melihat langit dengan jelas, tanpa terhalang pepohonan dan rumah tetangga, seperti yang ada pada sisi rumahku yang lain. Langit masih gelap, gelap sekali. Meski tak ada mendung, dan juga….kenapa tak ada bulan dan bintang? Biasanya saat seperti ini bintang masih setia menemani rembulan. Kemana tiga bintang yang selalu berjajar yang entah apa namanya aku tak tahu, dan selalu muncul di langit atas rumahku? Aku berjalan, mencari sudut pandang yang lebih luas. Aneh, sekarang musiom apa? Kenapa tak ada bintang? Apa benar alam mulai semakin sulit ditebak? Satupun tak ada bintang. Rembulan satu-satunyapun tak muncul. Aku berlari masuk rumah. Ya Allah apa yang terjadi?Allahu Akbar, kudirikan sholat shubuh, tapi masih saja terlintas bayangan langit gelap dan kelam tanpa bintang.
Haah….ada apa sebenarnya? Kenapa sholatku jadi kacau begini? Kenapa tiba-tiba aku merasa takut? Mungkin lebih baik aku membaca Al-Qur’an saja, biasanya hatiku menjadi lebih tenang. Kuambil kitab Allah itu di rak buku yang ada disamping tempat sholatku. Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk. Kubaca Fatihah, kemudian ayat demi ayat kubaca. Terasa tenang dan damai kurasakan ayat-ayat suci itu masuk ke dalam telingaku lalu merasuk dalam hatiku. Maha Suci Allah. Aku tak tahu sudah berapa ayat yang kubaca, dan sudah berapa jam aku duduk di atas sajadah ini. Tapi aku merasa keadaan tidak berubah sedikitpun. Tetap sunyi, tanpa suara. Tak ada deru motor ataupun angkutan umum yang biasanya sudah ramai mencari penumpang di jalan depan rumahku. Suasana dalam rumahpun tak berubah, masih lengang. Kenapa bapak dan ibu belum juga bangun? Masku juga belum, jam berapa ini? Masya Allah, sudah jam enam. Aku hampir tak percaya, kupandangi lagi jam dinding di kamarku sekali lagi. Ya Allah, benar-benar jam enam. Bukankah bapak harus ke kantor? Bukankah ibu harus ke pasar? Tapi kenapa mereka belum bangun juga? Aku berlari menuju kamar bapak dan ibu. Pintu masih tertutup rapat.
“Tok…..tok…..”, tak ada jawaban. “Tok….tok…tok”, kucoba sekali lagi, sedikit lebih keras. “Bu…sudah jam enam, mau ke pasar nggak?” Tak ada jawaban sama sekali. Ku coba lagi, kali ini pintu kugedor-gedor, tapi nihil, tak ada sautan apapun. Aku bingung, apa yang terjadi? Aku menuju kamar Masku. Alhamdulillah pintu kamarnya terbuka. “Mas, mas….” Kupanggil agak keras, mungkin dia tidur pagi lagi hingga bangunnya kesiangan. Tapi kenapa dia tak ada? Kemana masku? Kucari dikamar mandi, pancuran, dapur, tetap tak kutemukan. “Mas…mas”, aku semakin keras memanggilnya.Tak terdengar jawaban apapun. Aku semakin bingung, apa yang harus aku lakukan? Ya Allah…! Mungkin dia di luar, sedang lari pagi, atau mungkin menyapu halaman, atau mungkin….Segala kemungkinan aku pikirkan, siapa tahu salah satunya benar. Aku tak mau terus larut dalam kecemasan ini. Mungkin lebih baik aku keluar saja, dengan begitu aku bisa bertemu atau bertanya kepada seseorang.Setengah berlari aku keluar sambil terus memanggil masku. Innalillahi, apa yang terjadi? Ya Allah, ada apa gerangan? Aku terperangah, aku takut. Langit masih gelap. Begitu gelap. Meski lampu-lampu kota masih menyala, tapi apa gunanya? Lampu-lampu itu tak bisa menerangi pikiranku. Aku buntu. Sudah jam enam lebih, tapi kenapa masih gelap? Kemana mentari pagi? Tak mungkin dia lupa untuk menyinari bagian bumi dimana aku dan keluargaku tinggal dan memutuskan tetap menyinari belahan bumi yang lain.
Mentari….mentari, kenapa hari ini tak ada mentari? Di luar, di jalan, semuanya begitu lengang, tak ada orang, satupun. Seolah-olah semua orang di dunia ini lenyap begitu saja. Tapi kenapa aku tidak? Aku sendiri di dunia ini. Masya Allah…apa yang terjadi? Jangan-jangan hari ini…..kiamat? Ya Allah kiamatkah hari ini?Aku duduk terdiam di ruang tamu, tak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku hanya mencoba mengingat-ingat segala hal yang terjadi kemarin. Pagi, semua berjalan normal, tak ada yang aneh. Begitu pula siang harinya, tak ada yang ganjil apalagi mencurigakan. Kemarin sore? Yang sempat terpikir olehku adalah, mentari.
Kemarin sore aku duduk-duduk di teras depan rumahku. Saat itu cuaca begitu panas, mentari seperti kelihatan lebih besar dan lebih merah daripada biasanya. Aku tak tahu kenapa. Hal ini sudah kupikirkan sejak semalam, tapi aku berpikir bahwa itu hanya perasaanku saja. Dan kini, hal itu menjadi sebuah tanda tanya besar bagiku. Mengapa? Aku tetap tak bisa berpikir ditengah ketakutan dan kekalutan ini. Aku diam, mungkin kemarin adalah terakhir kalinya aku melihat mentari senja. Mungkin mentari senja kemarin ingin berpamitan padaku, pada dunia. Dan kini aku tak dapat melihatnya terbit, tenggelam, merasakan panasnya yang terik. Kini dunia begitu gelap, gulita, dan begitu dingin!Aku masih saja terdiam. Keringat dingin mulai bercucuran. Sudah hampir jam setengah delapan, tapi aku masih tak tahu harus berbuat apa. Mungkin lebih baik aku telpon teman-temanku, siapa tahu ada yang bisa kuhubungi dan kutanyai tentang semua kejadian ini. Tapi, tak ada sinyal di handphone-ku. Bahkan jasa layanannyapun tak tercantum. Percuma!
Apa ini benar-benar kiamat? Mengapa begitu cepat? Mengapa semua orang menghilang, dan kenapa hanya aku yang tersisa di dunia ini? Apa karena aku akan masuk neraka? Apa hanya aku sendiri yang akan masuk neraka? Ya Allah, ampuni aku! Astaghfirullah……..“Allahu Akbar, Allahu Akbar…”, aku tersentak. “Allahu Akbar, Allahu Akbar…”Ada yang mengumandangkan adzan, berarti aku tak sendiri. Hampir jam delapan, kenapa ada yang mengumandangkan adzan? Sholat apa? Ya Allah, aku tersentak sekali lagi. Aku terbangun.
Alhamdulillah, ternyata aku hanya bermimpi. Keringatku masih bercucuran. Aku hanya ingat kalau aku tertidur setelah sholat shubuh. Astaghfirullah. Mungkin karena terlalu capek, begadang mengerjakan laporan praktikum fisika yang tetap saja belum selesai. Kulihat jam dinding, Masya Allah, sudah hampir jam dua belas. Aku bangun dan bergegas mencuci muka di pancuran. Innalillahi, kenapa langit masih gelap? Mimpikah aku tadi? Kemana mentari? Dimanakah sang Surya yang harus meyinari dunia? Duniaku.Kenapa langit begitu gelap? Apa sang Surya benar-benar telah tenggelam kemarin sore? Surya…….
